Friday, December 17, 2004
News


Chaterine Zeta-Jones


Posted at 02:55 am by jafar
Comment (1)  

Hot Spot!

:: Hot Spot ::


Cpl Neil Ruskin, 5/7RAR, winner of the 2003 Harry Burton Award.Photo by Pte Jamie Osborne, 1JPAU(P)
The winning photo, selected by Eve Burton, sister of the late Harry Burton.


Pte Hintz listens to the radio during a combined Recon/Snipers patrol in East Timor, taken February 14, 2003, during 5/7RAR's deployment on Op Citadel. Photo by Cpl Neil Ruskin, 5/7RAR

The Harry Burton Memorial Award

Courage of the lone soldier

5/7RAR's Cpl Neil Ruskin wins with a photo 'almost martyr-like'

By Sgt Troy Rodgers
This year's Harry Burton Memorial Award for photography in the ADF has been won by Army's Cpl Neil Ruskin from 5/7RAR in Darwin.

A high standard of photography from all ranks of the ADF made this year's competition difficult to judge.

The award is in memory of Australian photographer Harry Burton who, with three other journalists, was sadly murdered by Taliban forces in Afghanistan on November 19, 2001.

The Taliban stopped the vehicle in which Harry and his fellow correspondents were travelling.

At gunpoint the four were ordered to get out of the vehicle. Clearly identified as non-combatants, the four journalists were led down to the rocky creek bed nearby and shot.

A member from Harry's family judges The Harry Burton Memorial Award. This year, Harry's sister Eve judged the competition.

Eve, who lives in Townsville and studies art at James Cook University, said it was an honour to be the judge for this year's competition and was amazed that CDF Gen Peter Cosgrove had asked the competition be named in Harry's memory.

Gen Cosgrove first met Harry and Harry's partner Joanne Collins in East Timor in 1999. Harry and Jo were filing stories for Reuters when Australian and international forces first arrived in East Timor and continued to file stories after INTERFET left East Timor when the UN took command in 2000.

Eve said this year's winning photo reminded her of her brother Harry on the last day he was seen alive. She was very moved by the winning image of a lone soldier walking into the unknown.

"The photo is almost martyr-like, with the courage of the lone soldier giving all for the freedom of the masses," she said.

"These were the same characteristics of my brother Harry."


Posted at 02:39 am by jafar
Lihat Komentar Anda  

Di sini Anda ungkapkan semuanya

apa kabar semuanya? bisa jadi dunia virtual ini membuat kita tak bisa dekat secara fisik, tapi biasanya dekat di hati jauh di mata

Posted at 01:14 am by jafar
Lihat Komentar Anda  




Thursday, December 16, 2004
Short Story

Saat Jalan itu Kulalui Sendiri
Cerpen Jafar G. Bua

Kawan ini jalan yang saban hari kita lalui bersama, tak ada yang aneh dari kelaziman itu. Cuma ada yang berubah, jalan itu kini kulalui sendiri.

Seribu sembilan ratus sembilan puluh delapan. Arak-arakan aksi mahasiswa itu bak gerbong kereta api panjangnya. Teriakan-teriakan mereka memecah langit biru dan siang yang menganugerahkan terik mentarinya. Pamflet, poster dan ribuan selebaran lainnya, tumpek blek di jalanan menyatakan kebencian. Warnanya kuning, merah, hijau dan adapula yang putih.
"Kita harus memaksa penguasa tiran itu turun dari singgasana yang sekian lama membuncitkan perutnya," teriak seorang mahasiswi yang menggantung megaphone di bahu kirinya yang mungil.
"Ya. Kita sudah tak punya tawaran lain lagi," sahut seorang kawan mahasiswanya yang memegang dan membagikan selebaran ke para pengemudi mobil yang mereka papasi.

Amarah menggunung, menyumpal aliran angin yang semestinya bisa memutar kitiran petani di sawah yang masih dijaganya meski sebagiannya tak lagi bernas. Kebencian kini menjadi samudera, luas tak bertepi. Di istana sang tiran dengan sesekali memegang perutnya yang buncit itu, menatap kosong ke kejauhan. Dia mungkin berfikir hari akhirnya tiba sudah. Para pembantunya, dengan lidah terjulur keluar tetap yakin jika rakyat negeri masih mendukung sang tiran.

"Arak-arakan itu adalah kehendak kotor dan licik dari sebagian orang agar tuan turun dari singgasana," kata salah seorang pembantunya yang tampaknya paling dekat dengan sang tiran.
"Jangan akali aku," sela sang tiran, menatap tajam pada pembantunya yang memakai jas dan dasi berwarna kuning itu.
"Mana berani kami mengakali tuan yang menguasai orang-orang yang bersenjata itu," tukas salah seorang pembantunya yang lain.

Amarah telah membuat langit jadi merah dan malam pekat yang dingin menjadi garing. Burung-burung senja takut kembali ke sarangnya. Angkara di negeri seribu pulau itu, membuat badai sudah tak bersahabat lagi dengan nelayan. Banyak sampan yang pecah dan karam di hantam badai. Banyak janda dan anak yatim yang duduk di pantai menanti suami dan bapaknya pulang membawa ikan tangkapan seikat dua. Angin telah membadai, aliran sungai telah membanjir, suara seruling anak gembala di punggung kerbau menjadi lengkingan yang memecahkan gendang telinga. Suara cekikikan anak perawan yang mandi dan mencuci di air terjun kampung sudah menjadi cekikikan mengerikan raksasa betina yang diamuk birahi.

Sementara di istana anggur dan roti bertaburan di lantai. Rupanya baru saja terjadi selisih paham yang membuat murka sang tiran.
"Dulu kalian yang memaksa saya untuk kembali duduk di singgasana ini. Sekarang kalian pula yang memaksa untuk segera turun dari singgasana ini," kata sang tiran itu setengah berteriak.
"Pengawal penggal mereka. Biarkan kepala mereka jadi santapan serigala," teriak sang tiran kepada para pengawal setianya. Maka jatuh menggelindinglah kepala para pembantunya tadi. Tapi kemudian kepala-kepala tadi terbang melesat ke arah arak-arakan mahasiswa. Mulut mereka yang berlepotan darah berteriak, "hanya satu kata: reformasi." Lalu seperti tersihir mahasiswa-mahasiswa itu berteriak, "hidup pahlawan reformasi, hidup lokomotif reformasi."

Kepala-kepala dengan mulut berlumuran darah tadi pun melesat terbang berbarengan di antara arak-arakan para mahasiswa dan berteriak memberi semangat.

Sekarang anjing-anjing sang penguasa tiran itu telah menjadi pahlawan, di tengah para mahasiswa tadi. Mereka kemudian dicarikan tubuh dari mayat perampok yang diinapkan di kamar mayat di rumah sakit terbesar di kota itu.

Dandanan mereka kembali parlente. Jas dan dasi kuning yang mereka pakai tadi, kini telah berganti dengan jas merah dengan dasi merah pula.

Mereka kini berdiri di depan barisan para mahasiswa yang murka lantaran negerinya diperah sang tiran. Sampai kemudian di gedung rakyat, sang tiran tadi mesti bertekuk lutut. Menyerahkan singgasananya.

Usai sudah dendam kesumat. Burung kembali berkicau, badai kembali menjadi hembusan angin sepoi-sepoi basah, suara cekikikan perawan di air terjun kampung itu kini kembali terdengar merdu membangkitkan birahi.

Dipujalah anjing-anjing penguasa yang telah berganti baju tadi. Ribuan undangan setiap hari datang ke rumah mereka. Mulai dari undangan resepsi pernikahan hingga diskusi-diskusi tentang rakyat di hotel berbintang. Mereka selalu dipuja-puji. Tak ada lagi yang hebat selain mereka. Suara mereka seperti suara tuhan. Tak ada lagi vox populi vox dei. Kemana-mana mereka disambut bak pahlawan yang menang perang. Mereka lupa daratan. Sementara mahasiswa pun lupa jika perjuangan belumlah usai.

Seribu sembilan ratus sembilan puluh sembilan. Langit negeri beraneka warna. Kuning, merah, hijau, biru, putih, ungu dan bahkan abu-abu. Orang-orang pun mengusung bendera-bendera beraneka warna tadi. Mereka berteriak jika bendera mereka yang paling bagus untuk dipilih. Yang lainnya pun tak kalah garang berteriak, "pilih bendera kami. Dijamin rakyat makmur, Negeri kita menjadi negeri gemah ripah loh jinawi." Teriakan serupa pun terdengar di mana-mana dengan bendera yang beraneka.

Di tanah lapang, rakyat berdesak-desakan masuk ke bilik yang menyimpan aneka bendera itu. Mereka berharap hidup mereka berubah jika memilih bendera berwarna kuning, hijau, biru atau merah itu. Anak-anak, tua jompo, pemuda dan gadis-gadis cantik, istri-istri yang sedang mengandung, suami-suami yang berlamur lumpur sawah berebut memilih bendera yang mereka sukai.
"Insya Allah, hidup ini berubah makmur," sebut salah seorang pemuda dan gadis yang bergandeng tangan di pojok bilik hampir berbarengan.

Waktu hidup hampir usai, pemuda dan gadis yang bergandeng tangan di pojok bilik beberapa waktu silam itu, masih juga tak mampu merubah nasib hidupnya. Hidup makmur dan negeri yang gemah ripah loh jinawi yang mereka hendaki tak kunjung datang. Sementara sang pemuda mesti cepat-cepat menikahi gadis yang kini hamil tua itu.
"Hidup ini terlalu kejam untuk kami berdua, ya Tuhan," do'a sang pemuda tadi ketika malam mengtahajudkan hatinya.

Dua ribu. Penanda millenium baru. Arak-arakan mahasiswa di jalanan kembali marak. Teriakannya pun hampir sama dengan teriakan mahasiswa dua tahun lalu. "Sang raja itu mesti turun. Dia pengkhianat reformasi," teriak eorang mahasiswa yang oleh kawan-kawannya didaulat sebagai komandan lapangan aksi massa yang cuma berjumlah puluhan orang. Tapi anehnya setiap harinya, mereka tak jenuh menyebar pamflet, poster dan ribuan selebaran lainnya. Aku yang menjadi penyaksinya menjadi terharu. Gigih betul mahasiswa-mahasiswa itu menghendaki perubahan negeri.

Sampai kemudian pada dua ribu satu, aku menemukan secari kertas bertulis: Kawan ini jalan yang saban hari kita lalui bersama, tak ada yang aneh dari kelaziman itu. Cuma ada yang berubah, jalan itu kini kulalui sendiri. Tulisan tangan itu mungkin milik seorang aktivis mahasiswa yang ditinggalkan kawan-kawan seperjuangannya. Sementara di jalanan arak-arakan mahasiswa kembali menggerbong. Maki-makian untuk sang penguasa baru kembali memecah langit negeri. Angin kembali membadai, merobek layar sampan nelayan. Ombak lau membadai memecah lambung kapal-kapal kecil yang saban waktu lewat di atasnya. Negeri ini kian riuh saja.

Pejompongan, Jakarta Selatan, akhir pekan, 7 April 2001


Posted at 06:06 am by jafar
Lihat Komentar Anda  

Short Story

Dialog Hantu di Kota Mati
Cerpen Jafar G Bua

RATUSAN bangkai hanyut dibawa aliran sungai bersejarah itu. Kepak sayap ratusan gagak hitam terdengar lebih keras dari pada biasanya. Awan hitam menggantung di langit. Kota mati, tak ada lagi tangis perempuan-perempuan muda yang kehilangan suami, tak ada ada lagi riuh tangis anak-anak yang kehilangan bapaknya. Mereka mengungsi memburu rasa aman yang meninggalkan mereka. Yang ada tinggal bunyi dan gaung derap sepatu lars tentara dan polisi berselempang senapan yang hilir mudik di kota. Kota sudah mati. Orang-orang sudah jadi hantu. Mereka saling menyapa. Saling berjabatan tangan. Tapi di tempat lain ada hantu yang saling berperang. Mereka memperebutkan kebenaran yang terbungkus di kain lusuh berwarna merah dan putih. Dengan peluru dan bom-bom mereka berteriak jika kebenaran adalah mereka dan mereka adalah kebenaran itu. “Kebenaran itu berwarna putih,” teriak seorang laki-laki paruhbaya yang memanggul pedang panjang dan tombak bermata tiga.
“Kebenaran itu berwarna merah,” sahut laki-laki lainnya, tak kalah garang sambil mengelus-ngelus senapan berlaras dua yang diujungnya diikat kain merah. Kepak sayap gagak semakin menggemuruh. Seakan menyatakan bahwa kebenaran itu adalah kematian. Atau mungkin kebenaran itu sebenarnya telah mati ketika senapan di tangan-tangan para lelaki-lekai tadi menyalak dan menghamburkan bau busuk mesiu.
“Kebenaran itu sesuatu yang absurd. Kebenaran itu sebenarnya tidak ada. Kebenaran itu tergantung siapa yang mengatakannya,” tutur seorang hantu perempuan berwajah cantik yang muncul tiba-tiba di tengah-tengah amarah para lelaki itu.
“Ah, itu kan kata Anda. Kebenaran itu kan barang yang ada di kain putih tadi. Itu yang aku cari sejak tadi,” sahut hantu perempuan lainnya lebih keras mengalahkan suara bom yang meledak saat kata pertama lepas dari jeratan lisannya tadi.
“Anda kan memakai kacamata berwarna putih itu. Mestinya Anda memakai berlapis-lapis kacamata untuk melihat kebenaran. Entah itu kacamata hitam, merah, kuning atau abu-abu,” sanggah seorang hantu orang tua berkacamata yang rupanya seperti guru SD di desaku yang sudah musnah terbakar. Aku sudah tentu mesti berdiam diri. Meski aku juga sudah menjadi hantu. Aku agak segan menimpali kata-kata hantu orang tua itu. Aku pernah jadi muridnya. Aku masih ingat ketika dengan bersemangatnya dia menceritakan warna-warni Indonesia.
“Indonesia ini terdiri dari beragam suku bangsa, beragam agama dan kepercayaan, tapi mampu hidup bersama dan saling membagi,” papar dia sambil sesekali memegang kacamatanya yang hampir jatuh dari punggung hidungnya yang sukar disebut mancung itu. Tapi kemudian lamunanku buyar, setelah salakan senapan kembali bersahutan diiringi teriakan.
“Rebut kebenaran di kain putih itu, rebut kebenaran di kain merah itu.” Rintihan memilukan kembali terdengar. Ada yang merintih lantaran tangan dan kakinya hancur jadi abu terkena bom. Ada yang langsung rubuh mencium bumi. Mereka yang langsung dipanggil ke haribaan tuhan itu, langsung menjadi hantu. Hantu-hantu bertambah lagi. Ada yang berwarnah merah, ada yang berwarna putih, ada yang berwarna hitam, bahkan ada yang berwarna abu-abu. Ada yang berkacamata kuda, ada yang berkamata dengan beberapa lapis kaca warna-warni, ada yang sama sekali tak berkacamata. Ada yang ketika jadi hantu pun masih memanggul senapan. Ada yang memegang tasbih, ada yang memegang rosario. Hantu-hantu itu terbang berseliweran. Bertabrakan. Bahkan ada yang dengan sengaja menabrakku. Mungkin lantaran aku hantu yang berwarna abu-abu. Rupanya mereka geram melihatku. Mereka ingin aku berwarna merah atau putih, seperti kebanyakan dari mereka. Itu yang selalu mereka sebut ketika aku memaki jika ada yang nyaris menabrakku.
“Kamu meyakini kebenaran yang mana,” tanya mereka. Aku cuma bilang aku wartawan.
“Aku tak boleh memihak. Aku mesti netral,” teriakku tak kalah keras dari bunyi bom yang baru saja meledak.
“Tapi korban terus berjatuhan. Sungai itu sudah penuh darah para syuhada,” teriak seorang hantu laki-laki muda dengan garang.
“Begitu pun para martir itu. Darah mereka sudah tumpah berliter-liter,” teriak seorang laki-laki muda lainnya.
“Anda harus memihak,” teriak yang lainnya lagi. Aku akhirnya berlari ke toko milik Babah Hong yang nyaris terbakar habis di dekat terminal bekas kota elok itu. Aku mencari dua buah kaleng cat berwarna putih dan merah. Aku ambil kuas dan mengecat diriku. Sebelah kanan putih, sebelah kiri merah. Lalu kakiku kucat abu-abu, tanganku kucat hitam. Lalu kudatangi lagi mereka yang terus mendesakku untuk memihak.
“Ini aku warna-warni Indonesia. Seperti ajaran hantu bekas guruku itu,” kataku.
“Anda banci. Lebih baik anda memakai rok dan bergincu. Lalu berdiri di kolong jembatan sana menunggu para jejaka yang mungkin tertarik pada gincu tebalmu,” teriak mereka hampir bersama. Mereka rupanya begitu marah melihatku. Mereka pun menghujamkan tombaknya ke tubuhku. Menembakku. Membomku. Memanahku. Mencabik-cabikku dengan pedangnya. Mengencingiku. Merampas buku catatanku, kartu persku, ballpointku, kartu ATM ku, SIM ku, dan menjambak-jambak rambutku yang kubiarkan gondrong. Tubuhku seperti kain perca yang diguntiing-gunting dan dijadikan mainan oleh anak-anak taman kanak-kanak. Dari luka-luka yang menganga itu keluar darah berwarna putih, merah, hitam dan abu-abu. Tapi orang-orang itu tak perduli. Mereka masih saja menghujamkan tikaman belati dan mengayunkan pedangnya. Tanganku nyaris tanggal, leherku nyaris putus, kakiku nyaris putus. Dengan susah payah aku kemudian berlari ke kantor Polisi terdekat. Sambil berteriak, jika aku wartawan.
“Seperti juga kalian, pekerjaanku dilindungi undang-undang. Aku meminta perlindungan,” teriakku sambil menahan perih dari luka-lukaku yang menganga. Tapi aku terkejut ketika para Polisi itu juga bertanya, “kau memihak siapa. Mengapa kau mengecat tubuhmu dengan warnah-warna itu.”
“Kau harus memihak,” teriak mereka lagi, seraya menodongkan senapan SS-1 dan M-16 padaku. Mereka kemudian memuntahkan timah-timah panas yang sedari tadi bersembunyi di laras senapannya. aku terjungkal. Tubuhku berlubang-lubang. Darah warna-warni kembali muncrat dari lubang-lubang tubuhku. Aku berlari, tapi mereka masih tetap mengejarku. Sambil tetap berteriak memaksaku untuk memihak putih atau merah. Aku betul-betul ketakutan. Baru kali ini aku dikejar-kejar para Polisi bersenjata itu. Nafasku tinggal satu-satu. Sampai kemudian aku sampai di markas tentara dan melaporkan kejadian itu. Tapi kali ini aku mesti terkejut lagi. Mereka pun menanyakan, kepada siapa aku memihak. Ku tahu mereka bertanya lantaran melihat tubuhku yang tercabik-cabik ini penuh warna-warni. Warna-warni Indonesia. Aku pun mengambil kesimpulan, ada bahaya lagi mengancamku di sini. Apalagi aku melihat laras senapan mereka, ada yang diikat kain putih dan kain merah. Benar saja, belum usai lamunanku, kembali senapan yang sejak tadi mereka todongkan padaku menyalak. Lubang di tubuhku bertambah. Darah seperti tak henti-hentinya mengalir. Masih tetap berwarna putih, merah, hitam dan abu-abu. Aku pun kembali mengambil langkah seribu. Ku terjang saja ferboden di hadapaku. Ku ambil salah satu jip mereka, kukendarai selaju mungkin agar aku lepas dari kejaran tentara-tentara garang itu. Sampai kemudian jip yang kubawa itu terjungkal masuk kejuran, membawa tubuhku yang tercabik-cabik ini. Aku pun tersadar ketika sang malakul maut menghadang langkahku ketika akan keluar dari rongsokan itu.
“Aku akan mencabut nyawamu untuk kedua kalinya,” kata dia garang.
“Aku kan sudah bilang ketika kau menjadi hantu kau harus memihak,” imbuh dia lagi. Aku tak bisa mengelak kali ini. Waktu ketiga buatku untuk menjadi hantu mungkin akan memihak. Aku tak ingin lagi tercabik-cabik oleh timah panas tak bermata itu.
“Aku harus berpihak,” teriakku pada sang malakul maut yang meninggalkanku, seperti berjanji. Di kejauhan kaok ratusan gagak hitam, sayup terdengar, seperti mengamini pilihanku. Dan bau amis darah kian menyegat hidungku. Kita mungking memang tak punya pilihan lain, selain memihak. Itu kalau kita tak ingin disebut banci dan pengecut. Sebab ternyata kebenaran kini sudah terpahat di moncong-moncong senapan. Hingga Kita sudah tak punya hak lagi seperti tokek di puing-puing rumah yang habis terbakar itu. Putih atau merah, putih atau merah, putih atau merah, merah putih, putih merah.

Poso, Kota Hantu Februari 2001.


Posted at 06:00 am by jafar
Comment (1)  




Next Page


MENULIS membuat pikiran dan hati kita lapang. Menulis membuat kita lebih mudah mengeskpresikan pikiran dan hati kita. Menulis membuat kita terbebas dari beban kerja sehari-hari.



:: N a m e ::
Jafar G Bua

:: Address ::
Jl. Bakuku No. 1 Palu Sulawesi Tengah

:: Mobile Phone ::
0811 45 0992 - 0813 410 45728

:: Email ::
jgbua@yahoo.com

<< December 2004 >>
Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
 01 02 03 04
05 06 07 08 09 10 11
12 13 14 15 16 17 18
19 20 21 22 23 24 25
26 27 28 29 30 31


If you want to be updated on this weblog Enter your email here:




rss feed